Setiap tanggal 22 April, masyarakat
dunia khususnya masyarakat peduli lingkungan memperingatinya sebagai Hari Bumi.
Isu dunia tentang lingkungan yang terhangat saat ini adalah masalah pemanasan
global (global warming) dan akibat-akibatnya bagi kehidupan manusia.
Apa itu Pemanasan Global, Efek
dan Bagaimana Mengatasinya?
Pemanasan global adalah kejadian
meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Pada saat
ini, bumi menghadapi pemanasan yang cepat, yang oleh para ilmuan dianggap
disebabkan oleh aktifitas manusia. Penyebab utama pemanasan ini adalah
pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam,
yang melepas karbondioksida dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagai gas rumah
kaca ke atmosfer.
Diperkirakan, setiap tahun
dilepaskan *18,35 miliar* ton karbon dioksida. Ketika atmosfer semakin kaya
akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih
banyak panas dari Matahari yang dipancarkan ke Bumi. Inilah yang disebut dengan
Efek Rumah Kaca.
Pada tahun 1987 misalnya, tercatat
suhu paling tinggi yang pernah ada di Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara.
Kenaikan suhu global ini mengakibatkan mencairnya es di kutub utara. Sejumlah
peneliti dari /Princeton University/ pada tahun 2000 merilis hasil riset
terbaru bahwa perairan di dekat kutub mengalami kenaikan rata-rata permukaan
air laut sebesar 11,46 mm setiap tahunnya
Badan Meteorologi Inggris, Met
Office, mencatat temperatur hangat terjadi di seantero bumi. Pakar prediksi
cuaca menyatakan periode hangat yang lebih panjang daripada biasanya ini
terjadi akibat El Nino di atas Samudra Pasifik. Hal ini mendorong naiknya
temperatur global.
a. Dampak Pemanasan Global
Jika tidak segera diatasi, maka
kenaikan temperatur karena pemanasan global hingga tahun 2100 akan
mengakibatkan mencairnya es di kutub dan menghangatkan lautan, yang
mengakibatkan meningkatnya volume lautan serta menaikkan permukaannya sekitar 9
– 100 cm (4 – 40 inchi), menimbulkan banjir di daerah pantai, bahkan dapat
menenggelamkan pulau-pulau. Diantara 17.500 pulau di Indonesia, sekitar 4000
pulau akan tenggelam.
Beberapa daerah dengan iklim yang
hangat akan menerima curah hujan yang lebih tinggi, tetapi tanah juga akan
lebih cepat kering. Kekeringan tanah ini akan merusak tanaman bahkan
menghancurkan suplai makanan di beberapa tempat di dunia. Hewan dan tanaman
akan bermigrasi ke arah kutub yang lebih dingin dan spesies yang tidak mampu
berpindah akan musnah.
Pemanasan Global juga mengakibatkan
siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk (dari telur menjadi larva dan nyamuk
dewasa) akan lebih singkat, sehingga jumlah populasi akan cepat naik.
Mengganasnya penyakit yang disebabkan oleh nyamuk kemudian seolah menyebabkan
jenis penyakit baru.
b. Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca, pertama kali
ditemukan oleh Joseph Fourier pada 1824, merupakan sebuah proses di mana
atmosfer memanaskan sebuah planet. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya
konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.
Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran
bahan bakar minyak (BBM), batubara dan bahan bakar organik lainnya yang
melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
Selain gas CO2, yang
dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2),
nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa
senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon
(CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah
kaca.
Proses Efek Rumah Kaca berawal dari
sinar matahari yang menembus lapisan udara (atmosfer) dan memanasi permukaan
bumi. Energi yang masuk ke bumi mengalami: 25% dipantulkan oleh awan atau
partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5%
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Permukaan bumi yang menjadi panas
menghangatkan udara yang tepat di atasnya. Karena menjadi ringan, udara panas
tersebut naik dan posisinya digantikan oleh udara sejuk. Tanpa Efek Rumah Kaca
maka bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin
seperti di dalam freezer lemari es (-18°C)
Mekanisme yang sebenarnya
menguntungkan kehidupan di bumi ini berbalik menjadi sebuah ancaman tatkala
manusia memasuki era industrialisasi (abad ke-18). Untuk menunjang proses
industri, manusia mulai melakukan pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi
untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik. Proses pembakaran energi dari bumi
ini ternyata menghasilkan gas buangan berupa CO2. Otomatis kadar lapisan
gas rumah kaca yang menahan dan memantulkan kembali udara panas ke bumi menjadi
semakin banyak. Bumi pun semakin panas.
c. Mengurangi Efek Rumah Kaca
Satu sisi, Efek Rumah kaca
dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan alam. Namun, Efek Rumah Kaca yang
berlebihan akibat aktifitas manusia akan berubah menjadi ancaman untuk
kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, ketika manusia menyadari bahwa
aktifitasnya telah mengakibatkan Efek Rumah Kaca yang berlebih, maka diperlukan
usaha yang sungguh-sungguh untuk menguranginya sehingga mencapai
keseimbangannya kembali.
Para ilmuwan mempelajari cara-cara
untuk membatasi pemanasan global. Kunci utamanya adalah:
- Membatasi emisi CO2
Tehnik yang efektif untuk membatasi
emisi karbon ada dua yakni mengganti energi minyak dengan sumber energi lainnya
yang tidak mengemisikan karbon dan yang kedua penggunaan energi minyak sehemat
mungkin.
- Menyembunyikan karbon yang juga membantu mencegah karbon dioksida memasuki atmosfer atau mengambil CO2 yang ada. Menyembunyikan karbon dapat dilakukan dengan dua cara:
a) Di bawah tanah
atau penyimpanan air tanah
Bawah tanah atau air bawah tanah
bisa digunakan untuk menyuntikkan emisi CO2 ke dalam lapisan bumi
atau ke dalam lautan. Lapisan bumi yang dapat digunakan adalah penyimpanan
alami minyak dan gas bumi di tambang-tambang minyak. Dengan memompakan CO2
ke dalam tempat-tempat penyimpanan minyak di perut bumi akan membantu
mempermudah pengambilan minyak atau gas yang masih tersisa. Hal ini bisa
menutupi biaya penyembunyian karbon. Lapisan garam dan batubara yang dalam juga
bias menyembunyikan karbon dioksida
b) Penyimpanan di
dalam tumbuhan hidup.
Tumbuhan hijau menyerap CO2
dari udara untuk tumbuh.
PROTOKOL KYOTO
Pemanasan global sudah menjadi isu
internasional. Bahkan, keresahan dunia ini terwujud dalam konferensi Kyoto pada
Desember 1997. Persetujuan konferensi itu berlaku mulai 16 Februari 2005.
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Rangka Kerja PBB
tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yakni sebuah persetujuan internasional
mengenai pemanasan global.
Negara-negara yang meratifikasi
protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan
lima gas rumah kaca lainnya. Jika sukses diberlakukan, Protokol Kyoto
diprediksi akan mengurangi rata-rata pemanasan global antara 0,02°C dan 0,28°C
pada tahun 2050.
Hingga Februari 2005, 141 negara
telah meratifikasi protokol tersebut, termasuk Kanada, Tiongkok, India, Jepang,
Selandia Baru, Rusia, 25 negara anggota Uni Eropa, serta Rumania dan Bulgaria.
Untuk mencapai protokol Kyoto ini, semua negara terus menciptakan teknologi
yang ramah lingkungan, terutama negara maju. Karena, negara maju yang banyak
mengeluarkan CO2 penyebab rumah kaca.
Dengan mengedepankan Protokol Kyoto,
industri-industri stategis seperti industri migas, industri transportasi,
industri minyak dan gas didorong untuk menggunakan energi alternatif yang ramah
lingkungan. Artinya, sedapat mungkin meninggalkan penggunaan migas yang
merupakan sumber utama emisi gas karbon.
Sejumlah negara industri maju
seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia hingga kini belum menandatangi
protokol ini. Mereka beranggapan, kesepakatan ini akan mengancam masa depan
industi mereka. Padahal, AS tercatat sebagai salah satu negara penyumbang emisi
gas karbon terbesar di dunia. Selain AS, emapat Negara lain penyumbang emisi
gas rumah kaca terbesar adalah Tiongkok, Rusia, India, dan Jepang (sumber :
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)).
Penolakan terhadap perjanjian ini di
Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara
dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar
fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk
melaksanakan Protokol Kyoto dapat mencapai 300 milyar dollar AS, terutama
disebabkan oleh biaya energi.
KAPITALISME TELAH MERUSAK
KESEIMBANGAN ALAM
Penolakan Amerika Serikat dan
Australia untuk melaksanakan Protokol Kyoto telah menunjukkan bahwa kapitalisme
yang mereka emban lebih mementingkan keuntungan materi dari pada kepentingan
bersama yang lebih besar. Dengan demikian, usaha mengurangi emisi gas rumah
kaca tidak mungkin bisa dilakukan secara signifikan, karena tidak adanya
kepedulian atas berbagai dampak buruk pemanasan global yang telah diprediksi
oleh para ahli.
Global Warming yang sejauh ini telah
memberikan dampak signifikan terhadap bencana ekologis dunia, secara
fundamental disebabkan oleh ideologi kapitalis-sekuleris yang saat ini
mendasari kebijakan nasional dan internasional. Ideologi kapitalis-sekularis
Menganggap permasalahan ekonomi adalah kurangnya produk barang dan jasa relatif
terhadap kebutuhan manusia, sehingga solusinya adalah dengan meningkatkan
produksi semaksimal mungkin. Untuk meningkatkan aktivitas produksi, setiap individu
diberi kebebasan dalam beraktivitas ekonomi, membebaskan setiap individu untuk
memiliki apa saja, dan negara tidak perlu campur tangan dalam aktivitas
ekonomi, melainkan cukup melahirkan regulasi saja. Berdasarkan konsep tersebut,
adalah hal yang wajar ketika kemunculan ideologi ini dibarengi dengan revolusi
industri. Yang pada akhirnya mendorong emisi CO2 secara tak
terkendali sehingga terjadilah global warming.
Selain itu kapitalisme juga
mengutamakan kepemilikan individu dan pendekatan yang utilitarian (mementingkan
kemanfaatan) telah melahirkan sikap eksploitatif atas sumber daya alam seraya
mengabaikan aspek moralitas. Hal ini yang mengakibatkan hak penguasaan sumber
daya alam, khususnya hutan bisa jatuh ke tangan individu. Padahal kelestarian hutan
sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan alam yang dibutuhkan bagi
kehidupan manusia, tumbuhan dan hewan, serta seluruh ekosistem.
Prinsip kapitalisme yang
mementingkan keuntungan dan mengutamakan kepemilikan individu terhadap sumber
daya alam berakibat rusaknya keseimbangan alam. Selama ide kapitalisme masih
diemban, maka kehidupan dan alam akan senantiasa pada posisi yang tidak
seimbang. Akibatnya, musibah akan senantiasa mengancam kehidupan manusia, hewan
dan tumbuhan. Dengan kenyataan tersebut, tentu sangat mengherankan apabila
masih banyak manusia berharap dan merasa nyaman hidup dengan kapitalisme.
Global warming bukan sekedar masalah
teknologi semata, melainkan masalah multidimensi. Sehingga tidak cukup
mengatasi global warming dari satu sisi teknologi saja, tetapi harus secara
fundamental. Solusi teknologi membutuhkan biaya tinggi; penerapannya sering
terkendala masalah politik, ekonomi, sosial, dll; dan dapat menimbulkan
ketergantungan pada teknologi.
Pada dasarnya, global warming adalah
bagian dari dampak aktivitas manusia. Namun bukan berarti aktivitas manusia
harus dihentikan. Tentunya aktivitas manusia sangat dipengaruhi oleh aturan
yang mengikatnya. Ketika aturan itu rusak, maka akan dihasilkan kerusakan,
sehingga dibutuhkan aturan yang benar. Penyebab utama terjadinya kerusakan
alam, terutama pemanasan global, adalah prinsip ekonomi kapitalis yang
melakukan produksi besar-besaran dan kebebasan kepemilikian individu terhadap
sumber daya alam, sehingga hutan dimusnahkan dan terjadi eksploitasi
besar-besaran terhadap sumber tambang dan migas. Oleh karena itu, berbagai
solusi yang ditawarkan berupa pengendalian buangan gas CO2 ke
atmosfer akan sangat percuma dan tidak sebanding dengan kegiatan produksi
kapitalistik yang terus menerus dilakukan di seluruh dunia. Selama aturan yang
berlaku adalah aturan kapitalistik yang dibangun dari idiologi
kapitalis-sekular (yang juga merupakan penyebab fundamental atas segala
permasalahan), alam semesta ini pun terancam kerusakan bahkan kemusnahan. Maka,
solusi fundamental yang harus diterapkan adalah mengganti tata aturan yang
berasal dari ideologi kapitalis dengan tata aturan dari idiologi yang bukan
hanya manusiawi juga rahmat dan ramah bagi seluruh alam, yaitu hanya idiologi
Islam. Karena hanya Ideolgi Islam saja yang bersumber dari Zat Yang Menciptakan
seluruh alam semesta ini, bukan logika manusia yang terbatas.
Oleh karena itu sebagai upaya
menjaga keseimbangan alam, maka Khalifah wajib menetapkan kebijakan untuk
kemaslahatan umum dalam mengatasi pemanasan global, sebagai berikut :
- Memperbanyak tanaman untuk menyerap gas rumah kaca yang berlebih
- Menjaga dan mengelola hutan sesuai syariah
- Menjaga keseimbangan antara tingkat polusi dan RTH (Ruang Terbuka Hijau) di setiap wilayah
- Mewajibkan rakyat menjaga lingkungan masing-masing
- Menghidupkan tanah-tanah mati.
- Mengambil alih tanah-tanah yang tidak dikelola selama tiga tahun dan memberikan kepada orang lain untuk mengelolanya.
- Mengurangi emisi gas karbon dari industri, transportasi dan eksplorasi sumber daya alam
2. Mengadopsi sains dan tehnologi yang
bisa menjaga kelestarianlingkungan
3.
Menciptakan
mesin-mesin industri dan transportasi yang ramah lingkungan, termasuk
menyediakan sistem transportasi yang baik
4.
Memberi
subsidi untuk konversi bahan bakar industri yang ramah lingkungan
5.
Mendorong
penelitian dan pengembangan bahan bakar alternative yang ramah lingkungan
6.
Menetapkan
metode yang ramah lingkungan untuk eksplorasi, misalnya metode carbon
sequestration
7.
Menyiapkan
SDM peduli lingkungan dan undang-undangnya
·
Memberi
pendidikan kelestarian lingkungan lewat jalur formal dan non formal
· Menyiapkan dan menyebar para qodli
hisbah dan polisi
·
Membuat
Undang-undang kelestarian lingkungan hidup

