Kura-kura Galapagos
Kura-kura dikenal sebagai bintang yang bergerak lamban. Tidak terkecuali kura2 Raksasa Galapagos . Kura-kura ini bergerak pada kecepatan yang sangat lambat 0,16 mil per jam dibandingkan dengan Manusia pada kecepatan rata-rata 2,8 mil per jam
Kura-kura Galápagos yang asli ditemukan di Kepulauan Galapagos yang terletak 600 mil (965 kilometer) barat Ekuador di Amerika Selatan. Mereka adalah kura-kura terbesar di seluruh dunia, beratnya lebih dari 500 kilogram (227 kilogram) panjangnya hingga 6 kaki (1,8 meter) dari kepala hingga ekor. Mereka dapat hidup lebih dari 150 tahun.
Untuk bertahan hidup, pada musim kering yang panas dan lembab dari Kepulauan Galapagos, kura-kura raksasa ini dapat hidup sampai satu tahun tanpa makan atau minum. Makanannya berupa kaktus, buah-buahan, rumput, daun, dan tanaman merambat. Tubuh mereka mampu menyimpan makanan dan air yang sangat baik.
Kura-kura Galápagos ,dagingnya adalah makanan pilihan bagi bajak laut, pemburu dan pemburu paus . Karena kura-kura raksasa tidak perlu makan secara teratur, pelaut bisa membawa sumber makanan ini pada papan kapal mereka tanpa harus khawatir tentang perawatan mereka selama perjalanan panjang.
Setelah 150 tahun menyandang status
punah, spesies kura-kura raksasa Galapagos kemungkinan besar muncul kembali.
Para peneliti “menemukan” spesies yang hilang ini, yang disebut Chelonoidis
elephantopus, dengan menganalisis gen spesies kerabat dekatnya, Chelonoidis
becki.
Kerabat dekat itu tinggal di Pulau
Isabela, pulau terbesar di Kepulauan Galapagos di Samudera Pasifik. Pulau ini
terletak sekitar 322 kilometer dari Pulau Floreana Island, lokasi C.
elephantopus terakhir terlihat sebelum menghilang.
Para peneliti menduga C.
elephantopus punah karena diburu oleh para pemburu paus yang
menjelajah di kawasan Kepulauan Galapagos sekitar 150 tahun yang lalu. Mereka
menerbitkan penelitiannya dalam jurnalCurrent Biology.
Dua spesies kura-kura raksasa ini hidup
di Kepulauan Galapagos. Namun, kedua spesies kura-kura, yang kita kenal
dipelajari oleh Charles Darwin, memiliki bentuk tempurung berbeda.
Tempurung C. elephantopus di
Pulau Floreana berbentuk pelana, sementara spesies kura-kura di pulau-pulau
lainnya, termasuk C. becki, memiliki tempurung berbentuk kubah.
“Kura-kura raksasa ini bisa berbobot hampir 408 kilogram dan panjangnya
mencapai hampir 1,8 meter,” kata salah seorang peneliti.
Penelitian bermula ketika pada tahun
2008 para ilmuwan memperhatikan beberapa kura-kura C. becki memiliki
tempurung yang berbentuk lebih mirip pelana daripada kubah, ciri khasnya selama
ini. Belakangan para ilmuwan menemukan bahwa kura-kura tersebut adalah
keturunan campuran (hibrida) hasil perkawinan C. becki dengan C.
elephantopus.
Mereka mengambil sampel untuk analisis
genetik dari 1.669 kura-kura dewasa yang tinggal di pulau itu. Sampel yang
diambil sebanyak 20 persen dari total populasi kura-kura. Hasilnya, para
ilmuwan menemukan beberapa potongan gen C. elephantopus di
dalam populasi.
Mereka lalu menggunakan model komputer
khusus untuk menganalisis bagaimana gen spesies kura-kura yang sudah punah ini
memasuki populasi. “Hal itu hanya dapat terjadi saat seekor C.
elephantopus hidup kawin dengan C. becki. Ini adalah
bukti tidak langsung bahwa C. elephantopus masih hidup,”
kata seorang ilmuwan.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa 84
dari seluruh sampel kura-kura memiliki penanda genetik yang menunjukkan salah
satu orang tua mereka adalah spesies C. elephantopus. Sebanyak
30 ekor di antaranya berumur kurang dari 15 tahun. Para ilmuwan optimistis
induk mereka, yakni C. elephantopus masih hidup, mengingat
masa hidup kura-kura itu bisa mencapai lebih dari 100 tahun.
“Ini adalah laporan pertama dari
penemuan kembali spesies dengan cara melacak rekam jejak genetik dari gen
keturunan hibrida,” kata Ryan Garrick, peneliti dari Yale University, Amerika
Serikat. Peneliti yang sekarang menjadi asisten profesor di University of
Mississippi mengatakan temuan ini memberi nafas baru pada upaya konservasi bagi
spesies-spesies yang terancam punah.
Menurut Garrick, dari perbedaan genetik
di antara kura-kura hibrida, para peneliti memperkirakan setidaknya ada 38 ekor C.
elephantopus tertinggal di Kepulauan Galapagos, dan banyak di
antaranya yang mungkin masih hidup.
Jika dapat menemukan keberadaan
populasi C. elephantopus yang tersembunyi, para peneliti
bisa menangkap beberapa di antaranya untuk menjalankan program pemuliaan yang
bertujuan memperbanyak anggota populasi. Mereka bahkan bisa mencoba menciptakan
ulang spesies C. elephantopus dari potongan genetik yang
ditemukan dalam C. becki.
“Ini bukan hanya kerja akademis,” kata
peneliti Gisella Caccone dari Yale University. “Jika dapat menemukan kura-kura
ini, kita dapat mengembalikan mereka ke pulau asalnya.”
Menurut Caccone, upaya konservasi
kura-kura Galapagos sangat penting karena mereka adalah spesies kunci yang
memegang peran penting untuk mempertahankan keseimbangan ekologis ekosistem
kepulauan di Galapagos.
Dalam sejumlah spekulasi, para peneliti
tidak yakin bagaimana kura-kura raksasa bisa berpindah dari Pulau Floreana ke
Pulau Isabela. Mereka menduga kura-kura raksasa awalnya sengaja dibawa ke Pulau
Isabela sebagai makanan, tapi kemudian sebagian di antaranya dibuang begitu
saja ke laut dan ditinggalkan di pantai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar