Senin, 19 Desember 2016

Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan “Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi”

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCYTBVt-Ghhv54dWIXXnhUtOFogyuD3gwpFUYseOqEr6VLquSicmomExApSoFu2O1NiYB_01E4o9jeR7nOVKWT7m8XjqjdiWrz98JlsPnwjcx6O1b-M_tQH2EmfjJUI1TvPUeRc1K8Ug/s1600/logo+unej.png


Laporan Praktikum Fisiologi Tumbuhan
“Penguapan Air Melalui Proses Transpirasi”




Disusun oleh :
Nama                   : Hasan Albana Rhomadhon
NIM                     : 140210103085
Kelompok            : 4 
Kelas                    : C






PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2016
I.     Judul          : Penguapan Air melalui proses Transpirasi
II.  Tujuan       :
2.1  Untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
III.   Dasar Teori
            Air merupakan komonen utama tanaman hijau, yang merupakan 70-90% dari berat segar. Banyak tumbuhan yang tak berkayu memiliki banyak kandungan air di dalam isi selnya. Yang mana air berfungsi sebagai suatu medium yang cocok untuk transport molekul-molekul organik, ion anorganik dan gas yang berasal dari atmosfer. Selain itu pula air merupakan suatu media yang baik untuk banyak reaksi biokimia. Salah satunya yaitu adalah proses fotosintesis (Fitter, 2007: 143)
            Air sangat diperlukan oleh tubuh tumbuhan darat untuk pertumbiuhan dan metabolism tubuhnya. Sebagian tumbuhan di darat sangat boros dalam pemakaian air. Sebagian air yang diserap oleh oleh akar tidak disimpan dalam tumbuhan atau digunakan dalam proses metabolism tetapi nantinya akan hilang ke udara melalui proses evaporasi. Proses evaporasi dari tumbuhan diberi nama khusus yaitu transiprasi (Loveless, 2005: 160)
            Daun merupakan organ pokok pada tumbuhan. Pada umumnya daun berbentuk pipih bilateral, berwarna hijau dan merupakan tempat utama terjadinya fotosintesis. Bekaitan dengan itu, daun memiliki struktur mulut daun yang berguna untuk pertukaran gas O2, CO2, dan uap air dari daun ke alam sekitar dan sebaliknya.
            Distribusi stomata sangat berhubungan dengan kecepatan dan intensitas transpirasi daun, yaitu misalnya letak satu sama lain dengan jarak tertentu dan dalam batas tertentu. Maka semakin banyak porinya maka semakin cepat penguapannya. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan, maka penguapan dari lubang yang satu akan menghambat penguapan dari lubang yang di dekatnya (Papuangan, 2014)

            Suatu tumbuhan dalam membuat makanan harus membentangkan daunnya pada cahaya matahari serta memperoleh CO2 dari udara. Karbondioksida akan berdifusi kedalam daun, serta oksigen yang dihasilkan sebagai sampingan fotosintesis akan berdifusi keluar dari daun melaui stomata. Stomata merupakan penghubung ruang udara yang berbentuk sarang lebah. Sehingga CO2 dapat berdifusi ke sel-sel fotosintetik mesofil. Luas permukaan interal daun mencapai 10 sampai 30 kali lebih besar dibandingkan dengan luas permukaan eksternalnya.
            Ciri struktur daun ini akan meningkatkan fotosintesis dengan cara memperbesar pendedahan terhadap CO2, akan tetapi pada saat yang bersamaan ia juga meningkatkan luas permukaan untuk proses penguapan air, yang keluar dari tumbuhan secara bebas melalui stomata yang terbuka. Ada sekitar 90% air yang dikeluarkan oleh tumbuhan dan menghilang melalui stomata, meskipun pori ini hanya meliputi 1 % sampai 2 % permukaan daun. Hal ini berhubungan dengan suatu proses transpirasi pada tumbuhan. Dengan membuka dan menutup stomata, sel-sel penjaga membantu menyeimbangkan kebutuhan tumbuhan untuk  kebutuhan dari tumbuhan itu sendiri serta untuk menyimpan air dengan kebutuhannya untuk melakukan fotosintesis. (Campbell, 2008: 357).
            Proses evaporasi dari tumbuhan diberi nama khusus, yaitu transpirasi. Transpirasi jangan diartikan berbeda dari evaporasi, meskipun transpirasi terjadinya pada setiap bagian tumbuhan (biarpun hanya sedikit) tetapi pada umumnya kehilangan air terbesar terjadi pada bagian daun-daun (Loveless, 2005: 160) .
            Transpirasi merupakan suatu peristiwa penguapan pada tumbuhan. Yang mana terjadi proses hilangya air dalam bentuk uap air dari daun dan batang tumbuhan hidup. Daerah yang mengalami transpirasi yaitu daerah daun dan pada daerah batang, tetapi hanya sedikit sekali yang terjadi melalui batang, karena umunya terjadi melalui daun, dimana dari daun transpirasi akan dikeluarkan melalui stomata ke udara (Tim Pengampu Mata Kuliah Fisiologi Tumbuhan, 2016)
Terdapat dua tipe transpirasi yaitu:
a.      Transpirasi kutikula merupakan evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis.
b.      Transpirasi stomata merupakan suatu proses kehilangan air yang berlangsung melalui stomata.
Kutikula daun secara relative tidak tembus air, dan pada sebagian jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 % atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Kehilangan air sebagian besar terjadi melalui stomata, sel-sel mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel tersebut ke atmosfer diluar (Dwijoseputro, 2003:156).
Pengukuran laju evaporasi dari permukaan air dapat dikatakan tidak terlalu berbeli-belit dikarenakan seluruh prosesnya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan. Dilain pihak untuk pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu mudah untuk dilakukan. Kesulitan yang utama adalah karena semua cara pengukuran transpirasi megharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang mempengaruhi laju transpirasi, yaitu sebagai berikut:
a.       Kertas label klorida awalnya berwarna biru cerah saat kering tetapi akan berwarna biru pucat dan kemudian berubah menjadi merah jambu saat menyerap air. Sehelai kertas biru cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan sebuah gelas preparat. Pada bagian bawah daun pada posisi yang sama ditempelkan ditempelkan lagi sebuah gelas preparat dan kemudian kedua gelas preparat tersebut dijepit. Waktu yang diperlukan untuk mengubah warna kertas dari biru cerah menjadi biru muda merupakan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutupi kertas.
b.      Potometer,  mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan asumsi bahwa apabila air yang tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi. Parometer berfungsi untuk memperagakan pengaruh kondisi luar terhadap transpirasi.
c.       Pengumpulan uap air yang ditranspirasi, aliran udara di sedot secara berkesinambungan melalui bejana dan dilewatkan kedalam tabung U yang sebelumnya sudah ditimbang dan berisi penyerap air (misal fosfor pentoksida atau kalsium klorida). Setelah beberapa waktu tabung-tabung U ditimbang kembali. Buatlah pula sebuah eksperimen kontrol tanpa tumbuhan. Dari perubahan berat kedua perangkat tabung U, banyaknya uap air yang dilepas tumbuahan selama eksperimen odapat ditentukan.
d.      Penimbangan langsung digunakan untuk mengetahui kehilangan air dari tumbuhan dapat ditaksir untuk jangka waktu tertentu, mencegah pengeringan tanah terlalu banyak selama eksperimen yang panjang, serta laju transpirasi dapat dihitung dengan menentukan banyak air yang harus ditambahkan ke dalam pot (Salisbury, 200)
Lingkungan yang ekstrim merupakanlingkungan yang dapat menimbulkan cekaman pada tumbuhan. Penyebab cekaman dapat berupa berbagai bahan kimia dan faktor-faktor fisik yang bersifat permanen maupun dapat balik. Kekeringan dapat merupakan cekaman primer maupun cekaman sekunder. Cekaman primer disebabkan oleh kekurangan air di lingkungan sekitar tumbuhan, sedangkan cekaman sekunder diinduksi oleh keadaan dingin, pembekuan, panas atau kadar garam (Ai, 2011).
Saat berada pada kondisi kekeringan yang paling parah bagi suatu tumbuhan dapat ditangani dengan cara meningkatkan pengambilan air, dengan mengambil pada daerah yang baisanya tersedia pada posisi yang lebih dalam, penggulungan daun dan penurunan potensial air daun. Penurunan potensial air daun mungkin juga dapat dilakukan dengan dengan peningkatan perubahan tekanan turgor, yang mana hal ini sangat tergatung pada elastisitas dinding sel, atau perubahan potensial osmotik, yang sangat tergantung pada konsentrasi larutan dalam sel. Kehilangan air daun juga dapat dicapai dengan memperkecil luas permukaan daun dan mereduksi konduktansi stomata. Pengaturan stomata memegang peran utama dalam pengendalian kehilangan air. Kecepatan penutupan stomata, sebagai respons stomata terhadap perubahan defisit tekanan uap, sangat ditentukan oleh sensivitas stomata (Dwidjoseputro, 2003).
IV.   METODE PRAKTIKUM
4.1  Alat dan Bahan
4.1.1 Alat
       a. Gunting tanaman
       b. Baskom
       c. Gelas ukur 10 ml
       d. Timbangan
       e. Kertas kuarto
       f. kertas grafik
       g. gelas obyek dan penutup
       h. Rak tabung
       i. Mikroskop
4.1.2 Bahan
       a. Batang/ranting Acalypha sp.
       b. Batang/ranting Bauhinia sp.
       c. Minyak kelapa
       d. Kuteks bening (cat kuku)
Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum
 
4.2 Cara Kerja

Mengisi air ke dalam baskom yang mana digunakan sebagai tempat pemotongan batang Acalypha sp. dan Bauhinia sp.
 
Menyiapkan 6 gelas ukur untuk masing-masing kelompok yang sudah diisi dengan air sebanyak 7 ml pada masing-masing gelas ukur.
 
Setelah pemotongan selesai masukkan segera potongan ranting /batang kedua tumbuhan tersebut kedalam 4 gelas ukur. Sedangkan yg 2 lainnya digunakan sebagai kontrol
 
 








           
4 gelas ukur yang diberi perlakuan digunakan pada kelompok 2,3 dan 4,5. Yang mana pada kelompok 2,3 menggunakan tumbuhan batang Acalypha sp. sedangkan pada kelopok 4,5 menggunakan tumbuhan batang Bauhinia sp., sedangkan control digunakan pada kelompok 1 dan 6
 
 




Ditetesi dengan menggunakan minyak kelapasampai seluruh permukaan tertutup oleh minyak, agar air tidak menguap.

 
Untuk kontrol letakkan setiap perangkat pada rak tabung di depan kelas

 
Sedangkan untuk perlakuan yang diletakkan pada tempat terang yaitu diletakkan di lapangan FKIP gedung 3 dan untuk perlakuan yang gelap diletakkan di kamar mandi biologi.
 
Amati dan catat perubahan pada air yang terjadi di dalam gelas ukur setiap 5 menit sekali selama 30 menit. Catat hasil pengamatan pada tabel pengamatan.
 
.Mencatat jumlah air yang diuapkan setiap periode tersebut dan menghitung nilai rata-ratanya

 
Setelah 30 menit berlalu kemudian melakukan metode penimbangan. Dimana sebelum proses penimbangan harus melakukan penjiplakan daun pada kertas kuarto terlebih dahulu.
 
Setelah selesai penjiplakan lalu kemudian melakukan penimbangan dengan menimbang kertas kuarto secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian menimbang jiplakan daun.
 
Setelah selesai melakukan penimbangan menghitung hasilnya yang meliputi laju transpirasi dan luas daun.

 
Oleskan kuteks bening pada daun bagian atas dan pada daun bagian bawah, setelah kuteks kering meletakkannya di atas kaca benda yang telah ditetesi oleh air.
 
Lalu tutup dengan menggunakan kaca penutup dan amati di bawah mikroskop dengan menggunakan perbesaran 10 x 40
 
Lalu hitung luas transpirasi, luas stomata dan jumlah stomata yang diperoleh
 
 








































V.      HASIL PENGAMATAN

Kel
Tumbuhan

Perlakuan

Laju Transpirasi
Luas Stomata
 stomata
Waktu

T

G

T

G
T
G
T
G
A
B
A
B
A
B
A
B
1,2
Pacar air
0
8
8
0,033
0
0,785
0,785
0,785
0,785
77,67
9010,31

251974,522
996942,674
5
8
8
10
8
8
15
8
8
20
8
8
25
8
8
30
7,8
8
3,4
Daun kupu-kupu
0
6,5
6
0,016
0,066
3,14
12,56
0,785
0,785
140,85
35,20
4757,70701
29140,9554
5
6,4
5,9
10
6,3
5,8
15
6,3
5,7
20
6,2
5,7
25
6,1
5,6
30
6
5,6



VI.   Pembahasan
Pada praktikum kali ini akan membahas mengenai penguapan air melalui proses transpirasi. Yang mana praktikum ini bertujuan untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses transpirasi serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Transpirasi merupakan suatu proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari batang dan daun tumbuhan hidup. Transpirasi terbesar terjadi melalui daun, ada pula transpirasi tersebut dapat terjadi pada batang namun dalam jumlah yang sedikit. Menurut teori yang dijelaskan oleh Loveless (2005) sebagian besar air yang diserap oleh akar tidak disimpan dalam tumbuhan atau diguunakan dalam berbagai proses metabolisme, tetapi hilang ke udara melalu proses evaporasi/transpirasi.
Pada praktikum kali ini kami melakukan pengamatan terhadap laju transpirasi Bauhinia sp. dimana pertama kami memasukkan terlebih dahulu aquades ke dalam gelas ukur sebanyak 6-7 ml ke 3 gelas ukur lalu memotong-motong Bauhinia sp. di dalam air. Setelah itu memasukkan Bauhinia sp. ke dalam 2 gelas ukur tersebut yang satu tidak di isi dengan Bauhinia sp. di gunakan sebagai kontrol, dan memasukkan minyak goreng ke dalamnya lalu menaruh di di dua tempat, yang 1 gelas ukur di tempat terik dan 1 gelas ukur di tempat teduh dan kontrol bisa di diletakkan di dalam ataupun luar. Lalu amati setiap 5 menit sekali selama 30 menit.Kemudian setelah 30 menit jika kita bandingkan antara bauhinia yang berada di tempat terik dan di tempat yang teduh. Laju transpirasi di tempat terik lebih besar daripada di tempat teduh.
Menurut teori yang dijelaskan oleh (Gardner, 2003) Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi proses transpirasi, yaitu faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Faktor internal meliputi:
1.      Penutupan stomata, Dengan terbukanya stomata lebih lebar, air yang hilang lebih banyak tetapi peningkatan kehilangan air lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan pelebaran stomata. Faktor yang paling berpengaruh terhadap pembukaan dan penutupan stomata adalah tingkat cahaya dan kelembapan. Pada sebagian tanaman cahaya menyebabkan stomata terbuka. Pada tingkat kelembapan dalam daun yang rendah, sel-sel pengawal akan kehilangan turgornya, yang dapat menyebabkan penutupan stomata
2.    jumlah dan ukuran stomata, kebanyakan daun tanaman yang produktif memiliki bnayak stomata pada kedua sisi daunnya. Jumlah serta ukuran stomata dipengaruhi oleh genotip dan lingkungan.
3.    Jumlah daun, makin luas daerah permukaan daun, maka proses transpirasi yang terjadi juga akan semakin besar.
4.    Penggulungan atau pelipatan daun, banyak tanaman yang memiliki mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila dalam kondisi perairan terbatas.
Menurut Dwijoseputro (2003) terdapat beberapa faktor ekstrernal, meliputi radiasi, temperature, kelembapan udara, tekanan udara, angin dan keadaan air dalam tanah. Angin dapat mempengaruhi laju transpirasi, jika udara yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembapan nisbinya rendah) dari udara sekitar tumbuhan tersebut. Kerapatan uap air di udara tergantung pada resistensi stomata dan kelembapan nisbih serta suhu udara tersebut, untuk perhitungan laju transpirasi. Kelembapan nisbih di dalam rongga stomata dianggap 100%.
Kerapatan uap air di dalam rongga substomata sepenuhnya bergantung pada suhu. Selanjutnya yaitu kelembapan udara, yang mana udara yang basah dapat menghambat transpirasi, sedangkan udara yang kering akan melancarkan transpire.apabila suatu tumbuhan memiliki kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga antar sel di daun dengan konsentrasi molekul uap air di udara.
Terdapat beberapa fungsi dari adanya proses transpirasi terhadap tumbuhan, yaitu dapat mempercepat laju pengangkutan unsure hara melalui pembuluh xylem, dapat mejaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap berada pada kondisi yang optimal, serta sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun.
Pemotongan batang Acalypha sp. dan Bauhinia sp. Dilakukan di dalam air dan mengusahakan potongan selalu berada dalam air hal ini bertujuan agar berkas pengangkut tidak terisi oleh udara yang mana nantinya dapat menyebabkan terganggunya proses pengangkutan air. Sehingga apabila proses pengangkutan terganggu tentu akan mempengaruhi proses terdistribusinya air ke bagian tumbuhan, yang mana hal tersebut dapat menyebabkan transpirasi dari tumbuhan akan terhambat.
Pada saat praktikum terdapat suatu proses dimana air ditetesi dengan menggunakan minyak kelapa, yang mana hal ini dilakukan agar seluruh permukaan air yang berada pada gelas ukur tertutupi secara merata. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi penguapan pada air. Yang mana apabila terjadi penguapan pada air, penguapan pada daun tidak dapat terjadi, sehingga hal ini akan mempengaruhi proses pengamatan kami nantinya, karena apabila tidak terjadi proses transpirasi dari daun tentu stomata tidak akan terbuka dan tidak akan terlihat saat diamati dibawah mikroskop. Hal inilah yang menyebabkan air dalam gelas ukur ditutupi oleh minya kelapa, agar penguapan tidak terjadi pada air dan terjadinya pada daun.
Saat setelah diberikan perlakuan pada tumbuhan Acalypha sp. dan Bauhinia sp. selanjutnya memberi kuteks bening pada kedua daun tumbuhan tersebut bagian atas dan bagian bawahnya, hal ini bertujuan untuk mempermudah pengambilan stomata yang berada pada bagian epidermis atas dan epidermis bawah daun tersebut, sehingga lebih mudah saat diamati di bawah mikroskop.
Hasil yang diperoleh pada praktikum ini yaitu dapat diketahui bahwa jumlah stomata yang terdapat pada daun bagian atas dan daun bagian bawah tidak berpengaruh terhadap besarnya laju transpirasi. Dimana kita ketahui laju transpirasi dipengaruhi oleh membuka dan menutupnya stomata pada daun. Terdapat teori yang jelaskan oleh Loveless (2005), bahwa laju transpirasi di pengaruhi atau bergantung pada tingkat intensitas cahaya. Sebagai salah satu respon dari stomata terhadap cahaya, sehingga laju transpirasi cederung lebih cepat terjadi pada siang hari daripada pada malam hari.
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa tumbuhan yang diletakkan pada tempat yang terang (terik), penguapan air akan semakin cepat terjadi apabila dibandingkan dengan tumbuhan yang diletakkan pada tempat yang teduh (gelap). Hal ini dikarenakan seperti teori yang telah disebutkan sebelumnya bahawa cahaya matahari merupakan faktor penentu dalam suatu proses transpirasi yang terjadi pada tumbuhan. Sehingga apabila semakin terik sinar matahari, maka akan semakin cepat terjadi penguapan air pada tumbuhan.
Lalu pada hasil pengamatan yang kami lakukan ditemukan data pada tumbuhan pacar air dan tumbuhan daun kupu-kupu memiliki laju transpirasi yang berbeda. Pada kelompok 1 dan 2 yang mengamati tumbuhan pacar air pada pacar air yang diletakkan di area terang laju transpirasinya 0,033 dan pada area gelap 0 lalu pada tumbuhan daun kupu-kupu juga sama laju transpirasinya 0,016 dan area gelap 0 hal ini membuktikan bahwa tumbuhan yang berada di area terang mengalami laju transpirasi yang lebih tinggi dikarenakan transpirasi tumbuhan tersebut dipengaruhi oleh faktor luar yang berupa panas dan radiasi. Lalu pada spesies pacar air dan daun kupu-kupu ini memiliki laju transpirasi yang berbeda dikarenakan luas stomata dan jumlah stomata mereka juga memiliki perbedaan yaitu pada pacar air luas stomatanya 0,785 dan jumlahnya 77,67 sedangkan pada daun kupu-kupu 3,14 dan jumlahnya 140,85 sehingga secara teori laju transpirasi dari kedua jenis tumbuhan ini juga akan mengalami perbedaan yaitu pada tumbuhan pacar air akan lebih cepat dari daun kupu-kupu laju percepatan transpirasinya.
Dengan hasil tersebut kita dapat mengetahui perbandingan laju transpirasi pada kondisi terik dan kondisi teduh dimana pada kondisi terik terjadi peningkatan laju transpirasi sedangkan pada kondisi teduh terjadi laju transpirasi akan tetapi tidak sebanyak pada tempat terik. Secara internal, transpirasi dikontrol dengan pengaturan konduktivitas stomata, daya hisap daun, dan  tekanan akar, laju fotosintesis dan respirasi, serta jenis dan umur tanamannya. Sedang faktor eksternal yang penting adalah cahaya dan suhu, kelembaban udara, kecepatan  angin, dimana cahaya dalam keadaan terik mengakibatkan terbukanya stomata sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan laju transpirasi, pada keadaan teduh tidak terpapar cahaya matahari secara langsung sehingga laju transpirasi menjadi rendah. Mekanisme terbukanya stomata sendiri menurut Pandey dan Sinha (1983) Cahaya masuk terjadi fotosintesis dalam sel-sel mesophyl, mengakibatkan berkurangnya CO2 dalam ruang antar sel dan menaikan pH dalam sel penutup terjadi perubahan enzimatik menjadi gula mengakibatkan menaikkan kadar gula, menaikkan tekanan osmotic dari getah sel sehingga menaikkan turgor sehingga mengakibatkan stomata membuka. Jika tidak terpapar matahari secara langsung maka stomata yang terbuka sedikit mengakibatkan pada kondisi teduh laju transpirasi rendah di bandingkan dengan kondisi terik hubungannya adalah ke suhu jika kondisi terik suhu akan naik akan mengakibatkan stomata yan terbuka menjadi sangat banyak dan laju transpirasi semakin cepat. Selain itu juga di pengaruhi oleh senyawa yang banyak berperan dalam membuka dan menutupnya stomata adalah asam absisat (ABA). ABA merupakan senyawa yang berperan sebagai sinyal adanya cekaman kekeringan sehingga stomata segera menutup.
Kemudian pada hasil pengamatan letak stomata pada bagian atas dan bawah daun, pada kelompok 1 menggunakan daun dalam keadaan terik bagian atas tidak terdapat stomata dan pad abagian bawah daun terdapat 146624.2, dan pada kelompok 2 menggunakan daun terik di dapatkan hasil pada bagian atas daun terdapat 149808.917 pada bagian bawah daun di temukan jumlah stomata 24968.95, pada kelompok 3 menggunakan daun terik di dapatkan hasil total stomata pada bagian atas 764.33 dan bagian bawah 26715.16, sedangkan pada kelompok 4 menggunakan daun teduh di dapatkan jumlah stomata pada bagian atas 467.4 dan bagian bawah 12191.2. Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan rata-rata jumlah stomata yang kami temukan lebih banyak terdapat pada bagian bawah daun tumbuhan dari pada di bagian atas daun di karenakan supaya tidak terjadi penguapan air atau transpirasi berlebihan pada daun sehingga daun masih bisa mempertahankan jumlah air di dalam tubuhnya, jika stomata di bagian atas lebih banyak daripada di bagian bawah maka tumbuhan akan layu karena terlalu banyak kehilangan air.
Menurut Salisbury (1995) bahwa stomata terdapat di permukaan bawah daun, tetapi sering ditemui di kedua permukaan, meskipun lebih banyak terdapat di bagian bawah. Pori stomata berfungsi untuk pertukaran gas antara atmosfer dengan sistem ruang antara sel yang berada pada jaringan mesofil di bawah epidermis yang disebut rongga substomata (Loveless, 1991). Maka dari itulah jumlah stomata di bagian bawah daun lebih banyak supaya tidak terjadi transpirasi berlebihan dan tumbuhan masih dapat hidup pada beberapa tanaman yang berada di darat. Jika tanaman tersebut berada di daerah air maka yang terjadi adalah kebalikan dari tanaman yang berada di daratan dimana stomata di bagian atas lebih banyak fungsinya adalah untuk mengurangi air melalui transpirasi sehingga tidak mengakibatkan tumbuhan tersebut menjadi busuk.
            Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan luas daun pada kelompok 1 di dapatkan 4900 mm2  dan luas daun pada kelompok 2 adalah 5600 mm2 dan pada kelompok 3 di dapatkan luas daun adalah 2400 mm2 serta di kelompok 4 di dapatkan luas daun 3300 mm2. Luas daun tidak mempengaruhi banyak atau tidaknya stomata di bagian bawah daun, banyak tidak nya stomata di pengaruhi oleh adapatasi dari suatu tumbuhan tersebut apabila dia dalam keadaan kering dia akan mengurangi pembentukan stomata dan memperkecil ukuran stomata begitu juga kebalikannya. Akan tetapi luas daun mempengaruhi laju transpirasi karena semakin lebar daun maka semakin banyak pula cahaya yang di serap oleh daun sehingga mengakibatkan tekanan uap air di dalam sel semakin tinggi dan mengakibatkan laju transpirasi meningkat, begitu juga sebaliknya.

























VII. Penutup
7.1  Kesimpulan
Transpirasi dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi tebal-tipisnya daun, besar-kecilnya daun, banyak sedikitnya bulu, ada atau tidaknya lapisan lilin serta jumlah stomata. Sedangkan faktor eksternal yang mempengaruhi adalah radiasi, temperature(suhu), kelembapan udara, tekanan udara, angin dan keadaan air dalam tanah. Apabila suhu serta tingkat intensitas cahaya semakin tinggi, maka laju transpirasi juga akan semakin tiggi.
7.2  Saran
Sebaiknya batang tumbuhan yang dipindahkan dari baskom menuju gelas ukur dilakukan dengan cepat agar berkas pembuluh tidak berisi udara.













DAFTAR PUSTAKA
Ai, Nio Song. 2011. Biomassa dan Kandungan Klorofil Total Daun Jahe (Zingiber officinale L.) yang Megalami Cekaman Kekeringa. Jurnal Ilmiah Sains. Volume 11 Nomor 1
Campbell, Neil. A, et al. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid II. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Dwidjoseputro, D. 2003. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakartta: Gramedia.
Fitter, A.H, et al. 2007. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Semarang: Gajah Mada University Press.
Loveless, A.R. 2005. Prinsio-prinsip Biologi Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT. Gramedia
Salisbury, F. B. dan C. W. Ross. 2000. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB
Papuangan, Nurmaya., et al. 2014. Jumlah dan Distribusi Stomata pada Tanaman Penghijauan di Kota Ternate. Jurnal Bioeducasi 3 (1): 2301-4678.
Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan. 2016. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan.


1 komentar: