
Laporan
Praktikum Fisiologi Tumbuhan
“Penguapan
Air Melalui Proses Transpirasi”
Disusun
oleh :
Nama : Hasan
Albana Rhomadhon
NIM : 140210103085
Kelompok : 4
Kelas : C
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN
PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JEMBER
2016
I.
Judul : Penguapan Air melalui proses
Transpirasi
II. Tujuan :
2.1 Untuk
mengetahui proses dan kecepatan penguapan air tumbuhan melalui proses
transpirasi serta faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
III.
Dasar
Teori
Air
merupakan komonen utama tanaman hijau, yang merupakan 70-90% dari berat segar.
Banyak tumbuhan yang tak berkayu memiliki banyak kandungan air di dalam isi
selnya. Yang mana air berfungsi sebagai suatu medium yang cocok untuk transport
molekul-molekul organik, ion anorganik dan gas yang berasal dari atmosfer.
Selain itu pula air merupakan suatu media yang baik untuk banyak reaksi
biokimia. Salah satunya yaitu adalah proses fotosintesis (Fitter, 2007: 143)
Air sangat diperlukan oleh tubuh
tumbuhan darat untuk pertumbiuhan dan metabolism tubuhnya. Sebagian tumbuhan di
darat sangat boros dalam pemakaian air. Sebagian air yang diserap oleh oleh
akar tidak disimpan dalam tumbuhan atau digunakan dalam proses metabolism
tetapi nantinya akan hilang ke udara melalui proses evaporasi. Proses evaporasi
dari tumbuhan diberi nama khusus yaitu transiprasi (Loveless, 2005: 160)
Daun merupakan organ pokok pada
tumbuhan. Pada umumnya daun berbentuk pipih bilateral, berwarna hijau dan
merupakan tempat utama terjadinya fotosintesis. Bekaitan dengan itu, daun
memiliki struktur mulut daun yang berguna untuk pertukaran gas O2, CO2, dan uap
air dari daun ke alam sekitar dan sebaliknya.
Distribusi stomata sangat
berhubungan dengan kecepatan dan intensitas transpirasi daun, yaitu misalnya
letak satu sama lain dengan jarak tertentu dan dalam batas tertentu. Maka
semakin banyak porinya maka semakin cepat penguapannya. Jika lubang-lubang itu
terlalu berdekatan, maka penguapan dari lubang yang satu akan menghambat penguapan
dari lubang yang di dekatnya (Papuangan, 2014)
Suatu
tumbuhan dalam membuat makanan harus membentangkan daunnya pada cahaya matahari
serta memperoleh CO2 dari udara. Karbondioksida akan berdifusi kedalam daun,
serta oksigen yang dihasilkan sebagai sampingan fotosintesis akan berdifusi
keluar dari daun melaui stomata. Stomata merupakan penghubung ruang udara yang
berbentuk sarang lebah. Sehingga CO2 dapat berdifusi ke sel-sel fotosintetik mesofil.
Luas permukaan interal daun mencapai 10 sampai 30 kali lebih besar dibandingkan
dengan luas permukaan eksternalnya.
Ciri
struktur daun ini akan meningkatkan fotosintesis dengan cara memperbesar
pendedahan terhadap CO2, akan tetapi pada saat yang bersamaan ia juga
meningkatkan luas permukaan untuk proses penguapan air, yang keluar dari
tumbuhan secara bebas melalui stomata yang terbuka. Ada sekitar 90% air yang
dikeluarkan oleh tumbuhan dan menghilang melalui stomata, meskipun pori ini
hanya meliputi 1 % sampai 2 % permukaan daun. Hal ini berhubungan dengan suatu
proses transpirasi pada tumbuhan. Dengan membuka dan menutup stomata, sel-sel
penjaga membantu menyeimbangkan kebutuhan tumbuhan untuk kebutuhan dari tumbuhan itu sendiri serta
untuk menyimpan air dengan kebutuhannya untuk melakukan fotosintesis.
(Campbell, 2008: 357).
Proses evaporasi dari tumbuhan
diberi nama khusus, yaitu transpirasi. Transpirasi jangan diartikan berbeda
dari evaporasi, meskipun transpirasi terjadinya pada setiap bagian tumbuhan
(biarpun hanya sedikit) tetapi pada umumnya kehilangan air terbesar terjadi
pada bagian daun-daun (Loveless, 2005: 160) .
Transpirasi
merupakan suatu peristiwa penguapan pada tumbuhan. Yang mana terjadi proses
hilangya air dalam bentuk uap air dari daun dan batang tumbuhan hidup. Daerah
yang mengalami transpirasi yaitu daerah daun dan pada daerah batang, tetapi
hanya sedikit sekali yang terjadi melalui batang, karena umunya terjadi melalui
daun, dimana dari daun transpirasi akan dikeluarkan melalui stomata ke udara
(Tim Pengampu Mata Kuliah Fisiologi Tumbuhan, 2016)
Terdapat
dua tipe transpirasi yaitu:
a. Transpirasi
kutikula merupakan evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula
epidermis.
b. Transpirasi
stomata merupakan suatu proses kehilangan air yang berlangsung melalui stomata.
Kutikula daun secara
relative tidak tembus air, dan pada sebagian jenis tumbuhan transpirasi
kutikula hanya sebesar 10 % atau kurang dari jumlah air yang hilang melalui
daun-daun. Kehilangan air sebagian besar terjadi melalui stomata, sel-sel
mesofil daun tidak tersusun rapat, tetapi diantara sel-sel tersebut terdapat
ruang-ruang udara yang dikelilingi oleh dinding-dinding sel mesofil yang jenuh
air. Air menguap dari dinding-dinding basah ini ke ruang-ruang antar sel, dan
uap air kemudian berdifusi melalui stomata dari ruang-ruang antar sel tersebut
ke atmosfer diluar (Dwijoseputro, 2003:156).
Pengukuran laju evaporasi dari permukaan air dapat dikatakan tidak terlalu
berbeli-belit dikarenakan seluruh prosesnya dikendalikan oleh faktor-faktor
lingkungan. Dilain pihak untuk pengukuran laju transpirasi tidaklah terlalu
mudah untuk dilakukan. Kesulitan yang utama adalah karena semua cara pengukuran
transpirasi megharuskan penempatan suatu tumbuhan dalam berbagai kondisi yang
mempengaruhi laju transpirasi, yaitu sebagai berikut:
a. Kertas label
klorida awalnya berwarna biru cerah saat kering tetapi akan berwarna biru pucat
dan kemudian berubah menjadi merah jambu saat menyerap air. Sehelai kertas biru
cerah ditempelkan pada permukaan daun dan ditutup dengan sebuah gelas preparat.
Pada bagian bawah daun pada posisi yang sama ditempelkan ditempelkan lagi
sebuah gelas preparat dan kemudian kedua gelas preparat tersebut dijepit. Waktu
yang diperlukan untuk mengubah warna kertas dari biru cerah menjadi biru muda
merupakan ukuran laju kehilangan air dari bagian daun yang ditutupi kertas.
b.
Potometer,
mengukur pengambilan air oleh sebuah potongan pucuk, dengan asumsi bahwa
apabila air yang tersedia dengan bebas untuk tumbuhan, jumlah air yang diambil
sama dengan jumlah air yang dikeluarkan oleh transpirasi. Parometer berfungsi
untuk memperagakan pengaruh kondisi luar terhadap transpirasi.
c.
Pengumpulan uap air yang ditranspirasi, aliran udara di
sedot secara berkesinambungan melalui bejana dan dilewatkan kedalam tabung U
yang sebelumnya sudah ditimbang dan berisi penyerap air (misal fosfor
pentoksida atau kalsium klorida). Setelah beberapa waktu tabung-tabung U
ditimbang kembali. Buatlah pula sebuah eksperimen kontrol tanpa tumbuhan. Dari
perubahan berat kedua perangkat tabung U, banyaknya uap air yang dilepas
tumbuahan selama eksperimen odapat ditentukan.
d. Penimbangan
langsung digunakan untuk mengetahui kehilangan air dari tumbuhan dapat ditaksir
untuk jangka waktu tertentu, mencegah pengeringan tanah terlalu banyak selama
eksperimen yang panjang, serta laju transpirasi dapat dihitung dengan
menentukan banyak air yang harus ditambahkan ke dalam pot (Salisbury,
200)
Lingkungan yang ekstrim
merupakanlingkungan yang dapat menimbulkan cekaman pada tumbuhan. Penyebab
cekaman dapat berupa berbagai bahan kimia dan faktor-faktor fisik yang bersifat
permanen maupun dapat balik. Kekeringan dapat merupakan cekaman primer maupun
cekaman sekunder. Cekaman primer disebabkan oleh kekurangan air di lingkungan
sekitar tumbuhan, sedangkan cekaman sekunder diinduksi oleh keadaan dingin,
pembekuan, panas atau kadar garam (Ai, 2011).
Saat berada pada
kondisi kekeringan yang paling parah bagi suatu tumbuhan dapat ditangani dengan
cara meningkatkan pengambilan air, dengan mengambil pada daerah yang baisanya
tersedia pada posisi yang lebih dalam, penggulungan daun dan penurunan
potensial air daun. Penurunan potensial air daun mungkin juga dapat dilakukan
dengan dengan peningkatan perubahan tekanan turgor, yang mana hal ini sangat
tergatung pada elastisitas dinding sel, atau perubahan potensial osmotik, yang
sangat tergantung pada konsentrasi larutan dalam sel. Kehilangan air daun juga
dapat dicapai dengan memperkecil luas permukaan daun dan mereduksi konduktansi
stomata. Pengaturan stomata memegang peran utama dalam pengendalian kehilangan
air. Kecepatan penutupan stomata, sebagai respons stomata terhadap perubahan
defisit tekanan uap, sangat ditentukan oleh sensivitas stomata (Dwidjoseputro,
2003).
IV. METODE PRAKTIKUM
4.1 Alat
dan Bahan
4.1.1 Alat
a.
Gunting tanaman
b.
Baskom
c.
Gelas ukur 10 ml
d.
Timbangan
e.
Kertas kuarto
f.
kertas grafik
g.
gelas obyek dan penutup
h.
Rak tabung
i.
Mikroskop
4.1.2 Bahan
a.
Batang/ranting Acalypha sp.
b.
Batang/ranting Bauhinia sp.
c.
Minyak kelapa
d.
Kuteks bening (cat kuku)
|
4.2 Cara Kerja
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||
|
||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
|
||||||||||||||||
V.
HASIL PENGAMATAN
|
Kel
|
Tumbuhan
|
Perlakuan
|
Laju Transpirasi
|
Luas Stomata
|
|
|||||||||
|
Waktu
|
T
|
G
|
T
|
G
|
T
|
G
|
T
|
G
|
||||||
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
A
|
B
|
|||||||
|
1,2
|
Pacar air
|
0
|
8
|
8
|
0,033
|
0
|
0,785
|
0,785
|
0,785
|
0,785
|
77,67
|
9010,31
|
251974,522
|
996942,674
|
|
5
|
8
|
8
|
||||||||||||
|
10
|
8
|
8
|
||||||||||||
|
15
|
8
|
8
|
||||||||||||
|
20
|
8
|
8
|
||||||||||||
|
25
|
8
|
8
|
||||||||||||
|
30
|
7,8
|
8
|
||||||||||||
|
3,4
|
Daun kupu-kupu
|
0
|
6,5
|
6
|
0,016
|
0,066
|
3,14
|
12,56
|
0,785
|
0,785
|
140,85
|
35,20
|
4757,70701
|
29140,9554
|
|
5
|
6,4
|
5,9
|
||||||||||||
|
10
|
6,3
|
5,8
|
||||||||||||
|
15
|
6,3
|
5,7
|
||||||||||||
|
20
|
6,2
|
5,7
|
||||||||||||
|
25
|
6,1
|
5,6
|
||||||||||||
|
30
|
6
|
5,6
|
||||||||||||
VI.
Pembahasan
Pada praktikum kali
ini akan membahas mengenai penguapan air melalui proses transpirasi. Yang mana
praktikum ini bertujuan untuk mengetahui proses dan kecepatan penguapan air
tumbuhan melalui proses transpirasi serta faktor-faktor lain yang
mempengaruhinya. Transpirasi merupakan suatu proses hilangnya air dalam bentuk
uap air dari batang dan daun tumbuhan hidup. Transpirasi terbesar terjadi
melalui daun, ada pula transpirasi tersebut dapat terjadi pada batang namun
dalam jumlah yang sedikit. Menurut teori yang dijelaskan oleh Loveless (2005)
sebagian besar air yang diserap oleh akar tidak disimpan dalam tumbuhan atau
diguunakan dalam berbagai proses metabolisme, tetapi hilang ke udara melalu
proses evaporasi/transpirasi.
Pada praktikum kali
ini kami melakukan pengamatan terhadap laju transpirasi Bauhinia sp. dimana pertama kami memasukkan terlebih dahulu aquades
ke dalam gelas ukur sebanyak 6-7 ml ke 3 gelas ukur lalu memotong-motong Bauhinia sp. di dalam air. Setelah itu
memasukkan Bauhinia sp. ke dalam 2
gelas ukur tersebut yang satu tidak di isi dengan Bauhinia sp. di gunakan sebagai kontrol, dan memasukkan minyak
goreng ke dalamnya lalu menaruh di di dua tempat, yang 1 gelas ukur di tempat
terik dan 1 gelas ukur di tempat teduh dan kontrol bisa di diletakkan di dalam
ataupun luar. Lalu amati setiap 5 menit sekali selama 30
menit.Kemudian setelah 30 menit jika kita bandingkan antara bauhinia yang
berada di tempat terik dan di tempat yang teduh. Laju transpirasi di tempat
terik lebih besar daripada di tempat teduh.
Menurut teori yang
dijelaskan oleh (Gardner, 2003) Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi proses
transpirasi, yaitu faktor dalam (internal) dan faktor luar (eksternal). Faktor
internal meliputi:
1. Penutupan stomata, Dengan
terbukanya stomata lebih lebar, air yang hilang lebih banyak tetapi peningkatan
kehilangan air lebih sedikit untuk masing-masing satuan penambahan pelebaran
stomata. Faktor yang paling berpengaruh terhadap pembukaan dan penutupan
stomata adalah tingkat cahaya dan kelembapan. Pada sebagian tanaman cahaya
menyebabkan stomata terbuka. Pada tingkat kelembapan dalam daun yang rendah,
sel-sel pengawal akan kehilangan turgornya, yang dapat menyebabkan penutupan
stomata
2. jumlah dan ukuran
stomata, kebanyakan daun tanaman yang produktif memiliki bnayak stomata pada
kedua sisi daunnya. Jumlah serta ukuran stomata dipengaruhi oleh genotip dan
lingkungan.
3. Jumlah daun, makin
luas daerah permukaan daun, maka proses transpirasi yang terjadi juga akan
semakin besar.
4. Penggulungan atau
pelipatan daun, banyak tanaman yang memiliki mekanisme dalam daun yang
menguntungkan pengurangan transpirasi apabila dalam kondisi perairan terbatas.
Menurut
Dwijoseputro (2003) terdapat beberapa faktor ekstrernal, meliputi radiasi,
temperature, kelembapan udara, tekanan udara, angin dan keadaan air dalam
tanah. Angin dapat mempengaruhi laju transpirasi, jika udara yang bergerak
melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembapan nisbinya rendah) dari
udara sekitar tumbuhan tersebut. Kerapatan uap air di udara tergantung pada
resistensi stomata dan kelembapan nisbih serta suhu udara tersebut, untuk
perhitungan laju transpirasi. Kelembapan nisbih di dalam rongga stomata
dianggap 100%.
Kerapatan
uap air di dalam rongga substomata sepenuhnya bergantung pada suhu. Selanjutnya
yaitu kelembapan udara, yang mana udara yang basah dapat menghambat
transpirasi, sedangkan udara yang kering akan melancarkan transpire.apabila
suatu tumbuhan memiliki kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju
transpirasi bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam
rongga antar sel di daun dengan konsentrasi molekul uap air di udara.
Terdapat
beberapa fungsi dari adanya proses transpirasi terhadap tumbuhan, yaitu dapat
mempercepat laju pengangkutan unsure hara melalui pembuluh xylem, dapat mejaga
turgiditas sel tumbuhan agar tetap berada pada kondisi yang optimal, serta
sebagai salah satu cara untuk menjaga stabilitas suhu daun.
Pemotongan
batang Acalypha sp. dan Bauhinia sp. Dilakukan di dalam air dan
mengusahakan potongan selalu berada dalam air hal ini bertujuan agar berkas
pengangkut tidak terisi oleh udara yang mana nantinya dapat menyebabkan
terganggunya proses pengangkutan air. Sehingga apabila proses pengangkutan terganggu
tentu akan mempengaruhi proses terdistribusinya air ke bagian tumbuhan, yang
mana hal tersebut dapat menyebabkan transpirasi dari tumbuhan akan terhambat.
Pada
saat praktikum terdapat suatu proses dimana air ditetesi dengan menggunakan
minyak kelapa, yang mana hal ini dilakukan agar seluruh permukaan air yang
berada pada gelas ukur tertutupi secara merata. Hal ini dilakukan agar tidak
terjadi penguapan pada air. Yang mana apabila terjadi penguapan pada air,
penguapan pada daun tidak dapat terjadi, sehingga hal ini akan mempengaruhi
proses pengamatan kami nantinya, karena apabila tidak terjadi proses
transpirasi dari daun tentu stomata tidak akan terbuka dan tidak akan terlihat
saat diamati dibawah mikroskop. Hal inilah yang menyebabkan air dalam gelas
ukur ditutupi oleh minya kelapa, agar penguapan tidak terjadi pada air dan
terjadinya pada daun.
Saat
setelah diberikan perlakuan pada tumbuhan Acalypha
sp. dan Bauhinia sp. selanjutnya
memberi kuteks bening pada kedua daun tumbuhan tersebut bagian atas dan bagian
bawahnya, hal ini bertujuan untuk mempermudah pengambilan stomata yang berada
pada bagian epidermis atas dan epidermis bawah daun tersebut, sehingga lebih
mudah saat diamati di bawah mikroskop.
Hasil
yang diperoleh pada praktikum ini yaitu dapat diketahui bahwa jumlah stomata
yang terdapat pada daun bagian atas dan daun bagian bawah tidak berpengaruh
terhadap besarnya laju transpirasi. Dimana kita ketahui laju transpirasi
dipengaruhi oleh membuka dan menutupnya stomata pada daun. Terdapat teori yang
jelaskan oleh Loveless (2005), bahwa laju transpirasi di pengaruhi atau
bergantung pada tingkat intensitas cahaya. Sebagai salah satu respon dari
stomata terhadap cahaya, sehingga laju transpirasi cederung lebih cepat terjadi
pada siang hari daripada pada malam hari.
Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh, dapat
dikatakan bahwa tumbuhan yang diletakkan pada tempat yang terang (terik),
penguapan air akan semakin cepat terjadi apabila dibandingkan dengan tumbuhan
yang diletakkan pada tempat yang teduh (gelap). Hal ini dikarenakan seperti
teori yang telah disebutkan sebelumnya bahawa cahaya matahari merupakan faktor
penentu dalam suatu proses transpirasi yang terjadi pada tumbuhan. Sehingga
apabila semakin terik sinar matahari, maka akan semakin cepat terjadi penguapan
air pada tumbuhan.
Lalu pada hasil
pengamatan yang kami lakukan ditemukan data pada tumbuhan pacar air dan
tumbuhan daun kupu-kupu memiliki laju transpirasi yang berbeda. Pada kelompok 1
dan 2 yang mengamati tumbuhan pacar air pada pacar air yang diletakkan di area
terang laju transpirasinya 0,033 dan pada area gelap 0 lalu pada tumbuhan daun
kupu-kupu juga sama laju transpirasinya 0,016 dan area gelap 0 hal ini
membuktikan bahwa tumbuhan yang berada di area terang mengalami laju
transpirasi yang lebih tinggi dikarenakan transpirasi tumbuhan tersebut
dipengaruhi oleh faktor luar yang berupa panas dan radiasi. Lalu pada spesies
pacar air dan daun kupu-kupu ini memiliki laju transpirasi yang berbeda
dikarenakan luas stomata dan jumlah stomata mereka juga memiliki perbedaan yaitu
pada pacar air luas stomatanya 0,785 dan jumlahnya 77,67 sedangkan pada daun kupu-kupu 3,14 dan
jumlahnya 140,85 sehingga secara teori laju transpirasi dari kedua jenis
tumbuhan ini juga akan mengalami perbedaan yaitu pada tumbuhan pacar air akan
lebih cepat dari daun kupu-kupu laju percepatan transpirasinya.
Dengan hasil
tersebut kita dapat mengetahui perbandingan laju transpirasi pada kondisi terik
dan kondisi teduh dimana pada kondisi terik terjadi peningkatan laju
transpirasi sedangkan pada kondisi teduh terjadi laju transpirasi akan tetapi
tidak sebanyak pada tempat terik. Secara internal,
transpirasi dikontrol dengan pengaturan konduktivitas stomata, daya hisap daun,
dan tekanan akar, laju fotosintesis dan
respirasi, serta jenis dan umur tanamannya. Sedang faktor eksternal yang
penting adalah cahaya dan suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, dimana cahaya dalam keadaan terik
mengakibatkan terbukanya stomata sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan
laju transpirasi, pada keadaan teduh tidak terpapar cahaya matahari secara
langsung sehingga laju transpirasi menjadi rendah. Mekanisme terbukanya stomata
sendiri menurut Pandey dan Sinha (1983) Cahaya masuk terjadi fotosintesis dalam
sel-sel mesophyl, mengakibatkan berkurangnya CO2 dalam ruang antar sel dan
menaikan pH dalam sel penutup terjadi perubahan enzimatik menjadi gula
mengakibatkan menaikkan kadar gula, menaikkan tekanan osmotic dari getah sel
sehingga menaikkan turgor sehingga mengakibatkan stomata membuka. Jika tidak
terpapar matahari secara langsung maka stomata yang terbuka sedikit
mengakibatkan pada kondisi teduh laju transpirasi rendah di bandingkan dengan
kondisi terik hubungannya adalah ke suhu jika kondisi terik suhu akan naik akan
mengakibatkan stomata yan terbuka menjadi sangat banyak dan laju transpirasi
semakin cepat. Selain itu juga di pengaruhi oleh senyawa yang banyak berperan
dalam membuka dan menutupnya stomata adalah asam absisat (ABA). ABA merupakan
senyawa yang berperan sebagai sinyal adanya cekaman kekeringan sehingga stomata
segera menutup.
Kemudian
pada hasil pengamatan letak stomata pada bagian atas dan bawah daun, pada
kelompok 1 menggunakan daun dalam keadaan terik bagian atas tidak terdapat
stomata dan pad abagian bawah daun terdapat 146624.2, dan pada kelompok 2 menggunakan
daun terik di dapatkan hasil pada bagian atas daun terdapat 149808.917 pada
bagian bawah daun di temukan jumlah stomata 24968.95, pada kelompok 3
menggunakan daun terik di dapatkan hasil total stomata pada bagian atas 764.33
dan bagian bawah 26715.16, sedangkan pada kelompok 4 menggunakan daun teduh di
dapatkan jumlah stomata pada bagian atas 467.4 dan bagian bawah 12191.2.
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan rata-rata jumlah stomata yang kami temukan
lebih banyak terdapat pada bagian bawah daun tumbuhan dari pada di bagian atas
daun di karenakan supaya tidak terjadi penguapan air atau transpirasi
berlebihan pada daun sehingga daun masih bisa mempertahankan jumlah air di
dalam tubuhnya, jika stomata di bagian atas lebih banyak daripada di bagian
bawah maka tumbuhan akan layu karena terlalu banyak kehilangan air.
Menurut Salisbury (1995) bahwa stomata terdapat di
permukaan bawah daun, tetapi sering ditemui di kedua permukaan, meskipun lebih
banyak terdapat di bagian bawah. Pori stomata berfungsi untuk pertukaran gas
antara atmosfer dengan sistem ruang antara sel yang berada pada jaringan
mesofil di bawah epidermis yang disebut rongga substomata (Loveless, 1991).
Maka dari itulah jumlah stomata di bagian bawah daun lebih banyak supaya tidak
terjadi transpirasi berlebihan dan tumbuhan masih dapat hidup pada beberapa
tanaman yang berada di darat. Jika tanaman tersebut berada di daerah air maka
yang terjadi adalah kebalikan dari tanaman yang berada di daratan dimana
stomata di bagian atas lebih banyak fungsinya adalah untuk mengurangi air
melalui transpirasi sehingga tidak mengakibatkan tumbuhan tersebut menjadi
busuk.
Berdasarkan hasil pengamatan yang
kami lakukan luas daun pada kelompok 1 di dapatkan 4900 mm2 dan luas daun pada kelompok 2 adalah 5600 mm2
dan pada kelompok 3 di dapatkan luas daun adalah 2400 mm2 serta di
kelompok 4 di dapatkan luas daun 3300 mm2. Luas daun tidak
mempengaruhi banyak atau tidaknya stomata di bagian bawah daun, banyak tidak
nya stomata di pengaruhi oleh adapatasi dari suatu tumbuhan tersebut apabila
dia dalam keadaan kering dia akan mengurangi pembentukan stomata dan
memperkecil ukuran stomata begitu juga kebalikannya. Akan tetapi luas daun
mempengaruhi laju transpirasi karena semakin lebar daun maka semakin banyak
pula cahaya yang di serap oleh daun sehingga mengakibatkan tekanan uap air di
dalam sel semakin tinggi dan mengakibatkan laju transpirasi meningkat, begitu
juga sebaliknya.
VII.
Penutup
7.1
Kesimpulan
Transpirasi
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi
tebal-tipisnya daun, besar-kecilnya daun, banyak sedikitnya bulu, ada atau
tidaknya lapisan lilin serta jumlah stomata. Sedangkan faktor eksternal yang
mempengaruhi adalah radiasi, temperature(suhu), kelembapan udara, tekanan
udara, angin dan keadaan air dalam tanah. Apabila suhu serta tingkat intensitas
cahaya semakin tinggi, maka laju transpirasi juga akan semakin tiggi.
7.2
Saran
Sebaiknya
batang tumbuhan yang dipindahkan dari baskom menuju gelas ukur dilakukan dengan
cepat agar berkas pembuluh tidak berisi udara.
DAFTAR
PUSTAKA
Ai,
Nio Song. 2011. Biomassa dan Kandungan Klorofil Total Daun Jahe (Zingiber
officinale L.) yang Megalami Cekaman Kekeringa. Jurnal Ilmiah Sains. Volume 11
Nomor 1
Campbell,
Neil. A, et al. 2008. Biologi Edisi
Kedelapan Jilid II. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Dwidjoseputro,
D. 2003. Pengantar Fisiologi Tumbuhan.
Jakartta: Gramedia.
Fitter,
A.H, et al. 2007. Fisiologi Lingkungan
Tanaman. Semarang: Gajah Mada University Press.
Loveless,
A.R. 2005. Prinsio-prinsip Biologi
Tumbuhan untuk Daerah Tropik. Jakarta: PT. Gramedia
Salisbury,
F. B. dan C. W. Ross. 2000. Fisiologi
Tumbuhan. Bandung: ITB
Papuangan,
Nurmaya., et al. 2014. Jumlah dan Distribusi Stomata pada Tanaman Penghijauan
di Kota Ternate. Jurnal Bioeducasi 3 (1): 2301-4678.
Tim Pembina Fisiologi Tumbuhan. 2016. Petunjuk
Praktikum Fisiologi Tumbuhan.
mantap, lengkap. Thanks ya kak hehe
BalasHapus